Manfaat Dan Kandungan Siwak

Salah satu nikmat Allah yang harus kita syukuri adalah kesehatan Jasmani dan Rohani, termasuk kesehatan gigi. Bagi kalian yang pernah mengalami sakit gigi, salah satu  penyebabnya adalah kurang bersihnya gigi kita.

Sebelum adanya sikat gigi seperti yang kita kenal sekarang, sejak zaman dahulu kaum muslimin telah mengenal siwak untuk membersihkan gigi.

Dalam Islam penggunaan siwak hukumnya sunnah dan sangat dianjurkan oleh Rasulullah ﷺ.

Rasulullah bersabda “Siwak itu pembersih mulut yang diridhoi Allah”. (HR. Ahmad).

Lalu apa sih itu siwak? manfaat  dan kandungan apa sih yang terkandung di dalamnya? Dan kapan sih waktu terbaik yang di anjurkan dalam bersiwak itu sendiri?

Yuuuk kita belajar Bersama tentang Siwak!.

Apa itu Siwak?

Siwak atau Miswak (dalam Bahasa Arab : سواك) adalah pembersih gigi berbentuk batang yang diambil dari akar dan ranting pohon Arak [Salvadora persica], phon yang dikenal juga dengan pohon “sikat gigi”. Berdiameter 0,1 cm sampai 5 cm.

Pohon Arak seperti tanaman belukar dengan batang yang bercabang-cabang, pohonnya kecil, diameternya lebih dari 30 cm, dan jika kulitnya dikelupas warnanya agak putih serta banyak juntaian serat. Rasanya sedikit pedas dan aromanya seperti seledri.

Manfaat Siwak

  • Mengikis plak gigi.
  • Menghilangkaun bau mulut tak sedap.
  • Membunuh bakteri yang menyebabkan penyakit gusi atau radang gusi.
  • Mengurangi resiko gigi berlubang.
  • Membersihkan sela gigi dari serabut kayu sebagai dental floss (benang gigi).
  • Meningkatkan produksi air liur dan mencegah mulut kering.

Kandungan Kimia Batang Kayu Siwak

  • Asam antibakteri,seperti Astringents, Abrasive, dan Detergents yang berfungsi membunuh bakteri, mencegah infeksi, dan menghentikan pendarahan pada gusi.
  • Kandungan kimia,seperti Klorida, Potassium (Kalium), Sodium bikarbonat, Fluoride, Silika, Sulfur, Vitamin C, Trimethyl Amine, Salvadorine, Tannins, dan mineral lain yang berfungsi membersihkan gigi, memutihkan, serta menyehatkan gusi dan gigi.
  • Antidecay agent (zat anti pembusukan),  menurunkan jumlah bakteri dimulut dan mencegah proses pembusukkan.
  • Minyak aroma alami, menjadikan mulut menjadi harum dan menghilangkan bau tak sedap.
  • Enzim, mencegah pembentukan plak yang menyebabkan radang gusi.

Waktu Yang Dianjurkan Memakai Siwak

  • Sebelum Membaca Al-Qur’an

Sebelum membaca Al-Qur’an, umat muslim dianjurkan untuk bersuci terlebih dahulu serta menjaga kebersihan mulutnya.

Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda :

“Sesungguhnya seorang hamba jika hendak shalat, maka malaikat datang dan tegak di belakangnya untuk mendengarkan Al-Quran dan terus mendekat. Dan malaikat terus mendengar dan mendekat sampai dia meletakkan mulutnya di mulut orang tersebut. Maka tidaklah dia membaca sebuah ayat kecuali dia telah berada di rongga mulut malaikat”. (HR. Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubra no. 162; Hasan sebagaimana yang dinyatakan oleh Al-Albani)

  • Sebelum atau sesudah wudhu

Bersiwak sangat dianjurkan sebelum wudhu, ketika berkumur-kumur saat wudhu atau dilakukan setelah wudhu.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasulullah ﷺ bersabda :

“Seandainya aku tidak memberatkan ummatku, maka aku akan perintahkan mereka bersiwak setiap kali berwudhu”. (HR. Bukhari 3/31)

  • Ketika akan sholat

Salah satu kebiasaan Rasulullah ﷺ sebelum sholat adalah bersiwak.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasulullah bersabda ﷺ :

“Seandainya aku tidak memberatkan ummatku maka aku perintahkan mereka semua untuk bersiwak ketika hendak shalat”. (HR. Bukhari no. 887 dan Muslim no. 252)

  • Saat masuk rumah

Setiap kali seseorang memasuki rumah, disunnahkan baginya  untuk bersiwak. Dijelaskan oleh Syuraih Al-Haritsi rahimahullah. Beliau adalah seorang tabiin yang hidup di zaman Rasullulah namun tidak pernah berjumpa dengan beliau. Ia pernah menanyakan pada Aisyah, istri Rasullulah tentang bagaimana kebiasaan Nabi saat memasuki rumah.

“Aku bertanya kepada Aisyah: “Dengan apa nabi shallallahu alaihi wa sallam masuk ke dalam rumahnya?” Maka Aisyah berkata: “Dengan siwak”. (HR. Muslim no. 253)

Wallohu A’lam bii Shawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.